.

Hasbunallaahu wa ni`mal Wakiil La Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah

Selasa, 03 Desember 2013

Buku catatan seorang perawan tua

“Saya tidak menginginkan materi apapun darimu. Bahkan misalnya kamu meminta harta kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu, asalkan kamu mau menikah denganku.”

“buku catatanku ini berisi impian, angan-angan, bunga-bunga mawar, dan hati yang melayang di sebuah taman yang asri penuh dengan kidung asmara, aneka kembang indah, kuda-kuda berwarna putih nan elok, dan lain sebagainya tetapi buku catatan ini aku tulis di atas dinding bebatuan yang pilu. Ketika aku mencium aroma harum perkawinan, darah pun mengucur deras dengan mendidih oleh panasnya rasa kerinduan, sehingga menimbulkan luka yang amat perih.

Aku menginginkan kebahagiaan. Tetapi aku tidak sanggup menggapainya, karena aku masih tetap melajang. Ayahku melarangku keluar dari rumah. Sementara ibuku hanya bisa diam saja membisu. Ia hanya bisa berkata sambil menangis; ‘dahulu ketika aku seusiamu aku digelandang oleh mereka sehingga akhirnya ayahmu bisa ketemu dengan aku. Yang penting selesaikan dahulu studimu.”

Mendengar itu saya berteriak, “ MasyaAllah! Lebih penting mana studi ataukah membebaskan putrimu dari kekangan yang sangat menyiksa iini?”

Siapa bilang kau tidak bisa meneruskan studi setelah menikah nanti? Ilmu memang penting. Tetapi ia adalah masalah kedua, karena masalah pertama ialah menikah. Aku tidak habis pikir bagaimana masyarakat bisa menganggap hal itu sebagai aib? Padahal sejatinya aku ini justru sedang meniti yang halal dan mengikuti sunah Nabiku Muhammmad Shalllahu Alaihi wa Sallam.

Lalu bagaimana pandangan mereka jika aku sampai meniti yang haram? Tentu mereka akan membunuhku! Aku hanya bias memohon kepada Allah keteguhan, kesabaran, dan kelapangan. Itu hanyalah sekedar impian kosong. Ya, impian indah seorang gadis yang masih hidup melajang. Tatapi bagiku itu adalah impian yang sangat menyiksa. Sekarang ini, siapa gadis yang hidupnya tidak merasa tersiksa jika masih menjadi perawan tua yang telah melewati masa2 mudanya?

Dengan pilu aku aku katakan terus terang, bahwa orang sepertiku ini adalah laksana seekor singa lapar yang sedang berada di tengah hutan yang penuh dengan aneka ragam makanan. Apa yang harus aku lakukan wahai Tuhanku? Aku tahu, sesungguhnya orang yang sedang memegang agamanya ini adalah seperti orang yang sedang memegang bara yang sangat panas. Betapa orang akan sinis dan kasihan mendengar sebutan perawan tua.

Berkali-kali aku ingin mengibarkan bendera perkawinan setiap diundang menghadiri acara walimah pengantin. Hatiku menjerit pilu setiap kali menyaksikan mempelai wanita dengan cantik mengenakan gaun pengantin berwarna putih dan pemerah pada sepasang pipinya. Perasaanku serasa sedang diaduk-aduk dan bergejolak tak menentu setiap melihat seorang wanita yang sedang mengandung calon buah hati. Dan hatiku terasa berdebar keras setiap memandang anak-anak kecil sedang bermain di depanku dengan lucunya.

Tetapi yang bisa aku lakukan hanya sekedar menangis seraya membayangkan seandainya aku punya kesempatan untuk merasakan kebahagiaan-kebahagiaan itu.

Betapa pun aku adalah manusia. Sebagai perawan tua aku masih punya harapan suatu waktu akan menikah. Jika sedang duduk di depan meja makan sendirian, aku membayangkan alangkah indah dan bahagianya jika ada lelaki pendamping hidup yang menemaniku. Tetapi itu hanya sekedar khayalan.

Wanita-wanita yang telah bersuami berangkali merasa terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan; Apakah kamu merasa bahagia? Apakah suamimu benar-benar mencintaimu? Apakah ia masih memberimu hadiah-hadiah? Apakah……? Apakah…….?

Aku mendengar kawanku memanggil istrinya, lalu mengajaknya bercanda, kemudian mereka pergi berjalan-jalan berdua ke sebuah taman yang asri.

Ketika salah seorang dari mereka memandangku, aku bersikap acuh dan tak peduli dengan pura-pura menggosok mata yang tidak apa apa. Padahal sejatinya di dasar hati yang paling dalam aku ingin seperti mereka. Bukankah aku ini juga manusia yang punya impian-impian indah seperti mereka?

Sangat boleh jadi mereka mengetahui apa yang sedang aku pikirkan.

Sebenarnya aku ingin sekali temanku itu menyapa atau memanggilku, sehingga aku akan segera menoleh ke arahnya sambil tersenyum seraya menjawab, “Ya, Ada apa?” Tetapi itu hanyalah sekedar impian.

Aku mendengar adik perempuan ku yang sudah menikah suatu hari berkata kepadaku, “Seandainya aku masih menjadi seorang gadis sepertimu……….sebab perkawinan itu hanyalah tanggung jawab dan beban penderitaan.”

Boleh saja ia mengaku tidak bahagia atas perkawinannya dengan alasan karena suaminya tidak menyenangkan, atau tidak penuh perhatian dan alasan-alasan lain. Tetapi seorang perawan tua sepertiku ini, bagaimanapaun juga tetap memimpikan kehadiran seorang suami yang akan memberikan rasa cinta kasih dan sayang yang lembut, serta perhatian yang tulus kepadaku. Aku tak peduli kedudukannya, dan aku juga tidak peduli sekalipun ia orang yang miskin. Sebab aku tetap percaya pada firman Allah Suhanahu wa Ta’ala, “Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.” Aku juga tidak peduli kewarganegaraannya. Yang penting bagiku ia orang muslim yang taat pada syariah Allah dan bersedia bersama-sama denganku membina kehidupan yang bahagia. Jika ia memanggilku, aku akan memenuhi panggilannya dengan segenap jiwa dan ragaku. Sesungguhnya aku hanya ingin mencari keridhaan Allah.

Mendekatlah padaku wahai pasangan hidupku. Dengan izin Allah kamu akan mendapatkan kebahagiaan rumah tangga bersamaku. Datanglah, dan jangan hiraukan masalah materi. Kita dapati banyak orang-orang miskin yang justru sangat dicintai oleh Allah. Aku bersedia untuk menerima yang sedikit. Bahkan kalo mau, aku akan memberimu harta. Jangan persoalkan dirimu yang mungkin bukan orang asli daerah karena aku pasti akan menerimamu. Yang aku utamakan adalah kebaikan akhlak, dan hal itu tidak memandang unsur kebangsaan. Pinanglah dan nikahilah aku, walaupun dengan mas kawin hafalan ayat al-Quran. Sebab, bagiku itu adalah mas kawin yang paling mahal di muka bumi. Datanglah karena aku masih setia menantimu dan mengharapkanmu.

Yaa Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu seorang suami yang saleh.”



A.M.S.





Riyadh

Dari Buku Kado pernikahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar