“Saya tidak menginginkan materi apapun darimu. Bahkan misalnya kamu
meminta harta kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu, asalkan kamu
mau menikah denganku.”
“buku catatanku ini berisi impian,
angan-angan, bunga-bunga mawar, dan hati yang melayang di sebuah taman
yang asri penuh dengan kidung asmara, aneka kembang indah, kuda-kuda
berwarna putih nan elok, dan lain sebagainya tetapi buku catatan ini aku
tulis di atas dinding bebatuan yang pilu. Ketika aku mencium aroma
harum perkawinan, darah pun mengucur deras dengan mendidih oleh panasnya
rasa kerinduan, sehingga menimbulkan luka yang amat perih.
Aku
menginginkan kebahagiaan. Tetapi aku tidak sanggup menggapainya, karena
aku masih tetap melajang. Ayahku melarangku keluar dari rumah. Sementara
ibuku hanya bisa diam saja membisu. Ia hanya bisa berkata sambil
menangis; ‘dahulu ketika aku seusiamu aku digelandang oleh mereka
sehingga akhirnya ayahmu bisa ketemu dengan aku. Yang penting selesaikan
dahulu studimu.”
Mendengar itu saya berteriak, “ MasyaAllah!
Lebih penting mana studi ataukah membebaskan putrimu dari kekangan yang
sangat menyiksa iini?”
Siapa bilang kau tidak bisa meneruskan
studi setelah menikah nanti? Ilmu memang penting. Tetapi ia adalah
masalah kedua, karena masalah pertama ialah menikah. Aku tidak habis
pikir bagaimana masyarakat bisa menganggap hal itu sebagai aib? Padahal
sejatinya aku ini justru sedang meniti yang halal dan mengikuti sunah
Nabiku Muhammmad Shalllahu Alaihi wa Sallam.
Lalu bagaimana
pandangan mereka jika aku sampai meniti yang haram? Tentu mereka akan
membunuhku! Aku hanya bias memohon kepada Allah keteguhan, kesabaran,
dan kelapangan. Itu hanyalah sekedar impian kosong. Ya, impian indah
seorang gadis yang masih hidup melajang. Tatapi bagiku itu adalah impian
yang sangat menyiksa. Sekarang ini, siapa gadis yang hidupnya tidak
merasa tersiksa jika masih menjadi perawan tua yang telah melewati masa2
mudanya?
Dengan pilu aku aku katakan terus terang, bahwa orang
sepertiku ini adalah laksana seekor singa lapar yang sedang berada di
tengah hutan yang penuh dengan aneka ragam makanan. Apa yang harus aku
lakukan wahai Tuhanku? Aku tahu, sesungguhnya orang yang sedang memegang
agamanya ini adalah seperti orang yang sedang memegang bara yang sangat
panas. Betapa orang akan sinis dan kasihan mendengar sebutan perawan
tua.
Berkali-kali aku ingin mengibarkan bendera perkawinan setiap
diundang menghadiri acara walimah pengantin. Hatiku menjerit pilu
setiap kali menyaksikan mempelai wanita dengan cantik mengenakan gaun
pengantin berwarna putih dan pemerah pada sepasang pipinya. Perasaanku
serasa sedang diaduk-aduk dan bergejolak tak menentu setiap melihat
seorang wanita yang sedang mengandung calon buah hati. Dan hatiku terasa
berdebar keras setiap memandang anak-anak kecil sedang bermain di
depanku dengan lucunya.
Tetapi yang bisa aku lakukan hanya
sekedar menangis seraya membayangkan seandainya aku punya kesempatan
untuk merasakan kebahagiaan-kebahagiaan itu.
Betapa pun aku
adalah manusia. Sebagai perawan tua aku masih punya harapan suatu waktu
akan menikah. Jika sedang duduk di depan meja makan sendirian, aku
membayangkan alangkah indah dan bahagianya jika ada lelaki pendamping
hidup yang menemaniku. Tetapi itu hanya sekedar khayalan.
Wanita-wanita
yang telah bersuami berangkali merasa terganggu oleh
pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan; Apakah kamu merasa bahagia?
Apakah suamimu benar-benar mencintaimu? Apakah ia masih memberimu
hadiah-hadiah? Apakah……? Apakah…….?
Aku mendengar kawanku
memanggil istrinya, lalu mengajaknya bercanda, kemudian mereka pergi
berjalan-jalan berdua ke sebuah taman yang asri.
Ketika salah
seorang dari mereka memandangku, aku bersikap acuh dan tak peduli dengan
pura-pura menggosok mata yang tidak apa apa. Padahal sejatinya di dasar
hati yang paling dalam aku ingin seperti mereka. Bukankah aku ini juga
manusia yang punya impian-impian indah seperti mereka?
Sangat boleh jadi mereka mengetahui apa yang sedang aku pikirkan.
Sebenarnya
aku ingin sekali temanku itu menyapa atau memanggilku, sehingga aku
akan segera menoleh ke arahnya sambil tersenyum seraya menjawab, “Ya,
Ada apa?” Tetapi itu hanyalah sekedar impian.
Aku mendengar adik
perempuan ku yang sudah menikah suatu hari berkata kepadaku, “Seandainya
aku masih menjadi seorang gadis sepertimu……….sebab perkawinan itu
hanyalah tanggung jawab dan beban penderitaan.”
Boleh saja ia
mengaku tidak bahagia atas perkawinannya dengan alasan karena suaminya
tidak menyenangkan, atau tidak penuh perhatian dan alasan-alasan lain.
Tetapi seorang perawan tua sepertiku ini, bagaimanapaun juga tetap
memimpikan kehadiran seorang suami yang akan memberikan rasa cinta kasih
dan sayang yang lembut, serta perhatian yang tulus kepadaku. Aku tak
peduli kedudukannya, dan aku juga tidak peduli sekalipun ia orang yang
miskin. Sebab aku tetap percaya pada firman Allah Suhanahu wa Ta’ala,
“Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.”
Aku juga tidak peduli kewarganegaraannya. Yang penting bagiku ia orang
muslim yang taat pada syariah Allah dan bersedia bersama-sama denganku
membina kehidupan yang bahagia. Jika ia memanggilku, aku akan memenuhi
panggilannya dengan segenap jiwa dan ragaku. Sesungguhnya aku hanya
ingin mencari keridhaan Allah.
Mendekatlah padaku wahai pasangan
hidupku. Dengan izin Allah kamu akan mendapatkan kebahagiaan rumah
tangga bersamaku. Datanglah, dan jangan hiraukan masalah materi. Kita
dapati banyak orang-orang miskin yang justru sangat dicintai oleh Allah.
Aku bersedia untuk menerima yang sedikit. Bahkan kalo mau, aku akan
memberimu harta. Jangan persoalkan dirimu yang mungkin bukan orang asli
daerah karena aku pasti akan menerimamu. Yang aku utamakan adalah
kebaikan akhlak, dan hal itu tidak memandang unsur kebangsaan. Pinanglah
dan nikahilah aku, walaupun dengan mas kawin hafalan ayat al-Quran.
Sebab, bagiku itu adalah mas kawin yang paling mahal di muka bumi.
Datanglah karena aku masih setia menantimu dan mengharapkanmu.
Yaa Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu seorang suami yang saleh.”
A.M.S.
Riyadh
Dari Buku Kado pernikahan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar