.

Hasbunallaahu wa ni`mal Wakiil La Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah

Jumat, 29 November 2013

JERITAN SEORANG PERAWAN TUA

Fenomena bertambahnya jumlah wanita yang terlambat menikah (perawan tua) menjadi satu perkara yang menakutkan saat ini, mengancam kebanyakan pemudi-pemudi di masyarakat kita yang Islami, bahkan di seluruh dunia. Berikut ini marilah kita mendengarkan salah satu jeritan mereka :

Majalah Al-Usrah edisi 80 Dzulqa'dah 1420 H menuliskan jeritan seorang perawan tua dari Madinah Munawaroh,"Semula saya sangat bimbang sebelum menulis untuk kalian karena ketakutan terhadap kaum wanita karena saya tahu bahwasanya mereka akan mengatakan bahwa aku ini sudah gila, atau kesurupan. Akan tetapi, realita yang aku alami dan dialami pula oleh sejumlah besar perawan-perawan tua, yang tidak seorang pun mengetahuinya, membuatku memberanikan diri. Saya akan menuliskan kisahku ini dengan ringkas.

┈┈»̶•̵̭̌✽✽•̵̭̌«̶┈┈┈┈»̶•̵̭̌✽✽•̵̭̌«̶┈┈┈┈»̶•̵̭̌✽✽•̵̭̌«̶┈┈┈┈»̶•̵̭̌✽✽•̵̭̌«̶┈┈┈┈»̶•̵̭̌✽✽•̵̭̌«̶┈┈

Ketika umurku mulai mendekati 20 tahun, saya seperti gadis lainnya memimpikan seorang pemuda yang multazim dan berakhlak mulia. Dahulu saya membangun pemikiran serta harapan-harapan; bagaimana kami hidup nanti dan bagaimana kami mendidik anak-anak kami... dan.. dan...

Saya adalah salah seorang yang sangat memerangi ta'adud (poligami). Hanya semata mendengar orang berkata kepadaku, "Fulan menikah lagi yang kedua", tanpa sadar saya mendoakan agar ia celaka. Saya berkata, "Kalau saya adalah istrinya -yang pertama- pastilah saya akan mencampakkannya, sebagaimana ia telah mencampakkanku'. Saya sering berdiskusi dengan saudaraku dan terkadang dengan pamanku mengenai masalah ta'addud. Mereka berusaha agar saya mau menerima ta'addud, sementara saya tetap keras kepala tidak mau menerima syari'at ta'addud. Saya katakan kepada mereka, 'Mustahil wanita lain akan bersama denganku mendampingi suamiku". Terkadang saya menjadi penyebab munculnya problema-problema antara suami-istri karena ia ingin memadu istri pertamanya; saya menghasutnya sehingga ia melawan kepada suaminya.

Begitulah, hari terus berlalu sedangkan aku masih menanti pemuda impianku. Saya menanti... akan tetapi ia belum juga datang dan saya masih terus menanti. Hampir 30 tahun umurku dalam penantian. Telah lewat 30 tahun... oh Illahi, apa yang harus kuperbuat? Apakah saya harus keluar untuk mencari pengantin laki-laki? Saya tidak sanggup, orang-orang akan berkata wanita ini tidak punya malu. Jadi, apa yang akan saya kerjakan? Tidak ada yang bisa saya perbuat, selain dari menunggu.

Pada suatu hari ketika saya sedang duduk-duduk, saya mendengar salah seorang dari wanita berkata, 'Fulanah jadi perawan tua". Aku berkata kepada diriku sendiri, "Kasihan Fulanah jadi perawan tua", akan tetapi... fulanah yang dimaksud itu ternyata aku. Ya Illahi! Sesungguhnya itu adalah namaku... saya telah menjadi perawan tua. Bagaimanapun saya melukiskannya kepada kalian, kalian tidak akan bisa merasakannya. Saya dihadapkan pada sebuah kenyataan sebagai perawan tua. Saya mulai mengulang kembali perhitungan-perhitunganku, apa yang saya kerjakan?

Waktu terus berlalu, hari silih berganti, dan saya ingin menjerit. Saya ingin seorang suami, seorang laki-laki tempat saya bernaung di bawah naungannya, membantuku menyelesaikan problema-problemaku... Saudaraku yang laki-laki memang tidak melalaikanku sedikit pun, tetapi dia bukan seperti seorang suami. Saya ingin hidup; ingin melahirkan, dan menikmati kehidupan. Akan tetapi, saya tidak sanggup mengucapkan perkataan ini kepada kaum laki-laki. Mereka akan mengatakan, "Wanita ini tidak malu". Tidak ada yang bisa saya lakukan selain daripada diam. Saya tertawa... akan tetapi bukan dari hatiku. Apakah kalian ingin saya tertawa, sedangkan tanganku menggenggam bara api? Saya tidak sanggup...

Suatu hari, saudaraku yang paling besar mendatangiku dan berkata, "Hari ini telah datang calon pengantin, tapi saya menolaknya..." Tanpa terasa saya berkata, "Kenapa kamu lakukan? Itu tidak boleh!" Ia berkata kepadaku, "Dikarenakan ia menginginkanmu sebagai istri kedua, dan saya tahu kalau kamu sangat memerangi ta'addud (poligami)". Hampir saja saya berteriak di hadapannya, "Kenapa kamu tidak menyetujuinya?" Saya rela menjadi istri kedua, atau ketiga, atau keempat... Kedua tanganku di dalam api. Saya setuju, ya saya yang dulu memerangi ta'addud, sekarang menerimanya. Saudaraku berkata, "Sudah terlambat"

Sekarang saya mengetahui hikmah dalam ta'addud. Satu hikmah ini telah membuatku menerima, bagaimana dengan hikmah-hikmah yang lain? Ya ALlah, ampunilah dosaku. Sesungguhnya saya dahulu tidak mengetahui. Kata-kata ini saya tujukan untuk kaum laki-laki, "Berta'addud-lah, nikahilah satu, dua, tiga, atau empat dengan syarat mampu dan adil. Saya ingatkan kalian dengan firman-Nya, "... Maka nikahilah olehmu apa yang baik bagimu dari wanita, dua, atau tiga, atau empat, maka jika kalian takut tidak mampu berlaku adil, maka satu..." Selamatkanlah kami. Kami adalah manusia seperti kalian, merasakan juga kepedihan. Tutupilah kami, kasihanilah kami."

Dan kata-kata berikut saya tujukan kepada saudariku muslimah yang telah bersuami, "Syukurilah nikmat ini karena kamu tidak merasakan panasnya api menjadi perawan tua. Saya harap kamu tidak marah apabila suamimu ingin menikah lagi dengan wanita lain. Janganlah kamu mencegahnya, akan tetapi doronglah ia. Saya tahu bahwa ini sangat berat atasmu. Akan tetapi, harapkanlah pahala di sisi ALlah. Lihatlah keadaan suadarimu yang menjadi perawan tua, wanita yang dicerai, dan janda yang ditinggal mati; siapa yang akan mengayomi mereka? Anggaplah ia saudarimu, kamu pasti akan mendapatkan pahala yang sangat besar dengan kesabaranmu"

Engkau mungkin mengatakan kepadaku, "Akan datang seorang bujangan yang akan menikahinya". Saya katakan kepadamu, "Lihatlah sensus penduduk. Sesungguhnya jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki. Jika setiap laki-laki menikah dengan satu wanita, niscaya banyak dari wanita-wanita kita yang menjadi perawan tua. Jangan hanya memikirkan diri sendiri saja. Akan tetapi, pikirkan juga saudarimu. Anggaplah dirimu berada dalam posisinya".

Engkau mungkin juga mengatakan, "Semua itu tidak penting bagiku, yang penting suamiku tidak menikah lagi." Saya katakan kepadamu, "Tangan yang berada di air tidak seperti tangan yang berada di bara api. Ini mungkin terjadi. Jika suamimu menikah lagi dengan wanita lain, ketahuilah bahwasanya dunia ini adalah fana, akhiratlah yang kekal. Janganlah kamu egois, dan janganlah kamu halangi saudarimu dari nikmat ini. Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri". (HR. Bukhari dalam kitan Iman no 13 dan Muslim no 45)

Demi ALlah, kalau kamu merasakan api menjadi perawan tua, kemudian kamu menikah, kamu pasti akan berkata kepada suamimu "Menikahlah dengan saudariku dan jagalah ia". Ya ALlah, sesungguhnya kami memohon kepadamu kemuliaan, kesucian, dan suami yang shalih"

A.A.N -Madinah

Materi dan Kebahagiaan

Suatu hari sebuah keluarga kecil terlihat sedang bermain-main di pinggir kolam di tengah taman kota. Nampak sang ayah sedang asyik bermain bola dengan putra laki-lakinya di tanah lapang yang sebenarnya tak cukup luas untuk tempat bermain bola. Sementara istrinya bersama anak perempuannya terlihat sedang asyik memainkan ayunan yang memang telahdisediakan oleh pihak pengelola taman. Senyuman tampak terus mengembang diwajah mereka. Sesekali suara tawa terdengar dari mulut mereka.

Satu jam kemudian, nampak orang tua dan kedua anaknya itu berlari-lari kecil menuju sebuah pohon besar yang ada di pinggir kolam. Sesampainya di bawah pohon itu, mereka langsung menggelar tikar yang sedari tadi dibawa.  Satu persatu isi dari kantong kresek hitam yang dibawa dikeluarkan. Dengan perlahans ang ibu menata isi kantong kresek tersebut di atas tikar.Lima menit kemudian telah terhidang sebakul nasi dan lauk pauknya. Tempe, tahu,ikan asin dan semangkuk sayur asem beserta sambal terasinya sudah siap untukdisantap.

Dengan wajah riang, keluarga kecil ini langsung bersiap menyantap hidangan yang telah terjejer di atas tikar. “Eiit...baca doa dulu ya!!”, ujar sang ayah kepada kedua anaknya. “Iya, yah…”, jawab si sulung.Dengan dipandu oleh sang ayah, ibu dan kedua anaknya mengikuti panduan membacadoa. “Allahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaabannaar”. “Amiin”, ujar ibu dan kedua anaknya sambil menempelkan kedua tangan mereka ke wajah mereka. Sesaat kemudian, mereka langsung menyantap makanan yang ada di depan mereka. Seringkali terdengar canda dan tawa dari mereka.Kebahagiaan sangat jelas terpancar dari raut wajah mereka. 

“Indah nian hidup mereka. Bersama-sama keluarga bisa bermain dan bersenda gurau. Tak ada raut kesedihan yang tampak dari mereka”, ujar Pak Andre yang sedari tadi terus memperhatikan tingkah polahkeluarga itu.

“Sementara aku ?!….hidupku tak menentu.Seakan-akan kebahagiaan terus menjauh dariku. Hidupku seakan sendirian, padahal diriku sudah mempunyai keluarga, seorang istri yang cantik dan empat orang anak hidup bersamaku. Dari sisi materi, hidupku pun berkecukupan. Segala keinginankupun sangat mudah terwujud. Namun, aku sering “iri” ketika melihat sebuah keluarga (anak dan orang tuanya) bisa berwisata bersama, asyik bercanda dan bermain bersama”, tuturnya dalam hati.

“Ingin sekali aku mengajak istri dan anak-anakku berwisata sekeluarga. Tetapi kesibukan istriku sebagai manajer di salah satu perusahaan ekspedisi ternama, terus menghalangi niatku. Ketika ajakan untuk ber-rekreasi dengan keluarga terlontar dari mulutku, istriku selalu menolaknya.Alasan sedang ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan atau pun ngelembur seringkali terucap dari mulut istriku.Seringkali aku kesal dibuatnya, namun aku selalu memendamnya dalam hati”, ujar pria yang bulan depan genap berusia 48 tahun ini.

Astaghfirullahal’adzim…salah apa aku ini?! Semua mudah aku dapatkan,usaha yang maju, rumah bagus, kendaraan mengkilap, tetapi mengapa kebahagiaan serasa terus menjauh dariku?!” ujar Pak Andre dalam hati.

Beberapa menit kemudian, Pak Andre tersadar dari lamunannya saat suara salam menyapanya. “Assalamu’alaikum”. Dengan agak terkejut, Pak Andre membalas salam, “Wa’alaikumsalam”. “Maaf, mengagetkan. Perkenalkan nama saya Subhan”, sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman. “Oya…Saya Andre“, jawab Pak Andre agak terbata-bata karena masih terkejut. “Sebelumnya saya minta maaf karena sudah mengagetkan bapak. Saya perhatikan bapak menangis. Kelihatan sedang bersedih, emangnya ada masalah apa pak?”, tanya Pak Subhan. “Saya juga minta maaf pak, karena sebenarnya dari tadi saya memperhatikan bapak dan keluarga bapak. Saya sedih pak, karena tidak bisa seperti Pak Subhan. Saya lihat Pak Subhan dan keluarga sangat bahagia. Bisa bermain bersama-samakeluarga, bercanda dan bersenda gurau, bahkan makan bersama di tempat ini. Dan saya lihat keluarga bapak sangat menikmatinya. Sedangkan saya tidak bisa. Susah sekali mengajak istri untuk refreshing seperti ini bersama anak-anak. Padahal kalau dari sisi materi, Alhamdulillah hidup saya dan keluarga serba berkecukupan,tetapi saya merasa belum bisa merasakan kebahagiaan”, kata Pak Andre berkaca-kaca.

Sambil memegang pundak Pak Andre, Pak Subhan menuturkan, “Oo…itu masalahnya. Sebenarnya saya juga dulu merasa seperti itu.Seakan-akan istri dan anak-anak jauh dari saya. Tidak sedekat seperti sekarang.Jarang sekali saya sempatkan waktu untuk keluarga. Saya hanya sibuk bekerja dan bekerja. Karena pada saat itu saya berfikir bahwa ketika karier saya bagus maka pendapatan saya akan bagus pula. Dan ketika saya memiliki banyak uang, maka kebahagiaan akan saya dapatkan”, ujar Pak Subhan.

Sambil menghela nafas, ia melanjutkan; “Tetapi,ternyata anggapan saya itu salah!!. Kebahagiaan tidak ditentukan dengan banyaknya materi. Berapapun banyaknya materi yang kita miliki, kalau kita jauhdari Dzat Yang Memberikan Kebahagiaan, maka tidak mungkin kebahagiaan akan menghampiri. Dan salah satu cara mendekatkan diri kita pada-Nya adalah dengan kita menjaga amanah yang telah diberikan-Nya pada kita. Istri dan anak-anak kita adalah amanah dari-Nya. Ya…keluarga kita adalah amanah dari-Nya. Amanah agar kita bisa membimbing mereka untuk dekat dengan-Nya. Amanah agar kita bisa menjadi imam yang baik buat mereka. Amanah agar kita bisa menjaga mereka darijilatan api neraka”.

“Bagaimana mungkin bisa membimbing mereka, kalau kita jauh dari mereka. Bagaimana mungkin bisa memandu mereka kalau kita hanya sibuk bekerja dan bekerja. Bagaimana mungkin bisa menjaga mereka dari jilatan api neraka, kalau kita hanya memberikan asupan-asupan materi duniawi tanpa ada nutrisi ukhrowi”, tutur Pak Subhan bersemangat.

“Tetapi materi juga kan penting Pak. Kita kan sekarang hidup di dunia?!”, sela Pak Andre. “Benar pak, tetapi kesalahan saya waktu dulu adalah saya memiliki anggapan bahwa materi adalah segalanya. Dengan materi, kita bisa mendapatkan segalanya, termasuk kebahagiaan. Tetapi, ternyata anggapan itu salah besar!!. Materi tak akan mampu menghadirkan kebahagiaan dalam hidup kita, jika sang empunya materi tak dekat dengan Sang Maha Pemberi Kebahagiaan, termasuk dengan mensia-siakan keluarga kita”, jelas Pak Subhan.

“Begitu ya pak…Makasih atas masukannya pak”,tutur Pak Andre sambil menjabat erat tangan Pak Subhan. 


Cinta sejati dan kesempurnaan

Berbagai sekolah pendidikan balita yang disebut dengan taman kanak-kanak menjadikan ragam permainan sebagai kurikulum pendidikannya. Pernah di salah satu taman kanak-kanak, para peserta didiknya disuruh membawa sekantong plastik kentang. Setiap anak diminta mengambil satu buah kentang dan menuliskan nama seseorang yang dibencinya. Dengan kata lain,setiap anak membawa sekantong  plastik kresek kentang yang merupakan simbolorang-orang yang mereka benci.

Tepat pada hari yang ditentukan, permainan kentang itu dimulai. Semua anak-anak membawa sekantong plastik kentang. Setiap kentang tertulis nama-nama orang yang dibenci. Ada yang membawa 2 buah kentang, 3, 5dan lainnya dari jumlah kentang yang dibawa anak-anak di sekolah itu. Sebelum permainan dimulai, ibu gurunya menyampaikan beberapa tata cara permainan.Yaitu, setiap anak harus membawa kantong plastik yang berisi kentang itu kemana pun si anak pergi. Ini harus dilakukan selama seminggu penuh. Permainanpun dimulai.

Setelah beberapa hari, anak-anak merasakan bau tidak sedap dari kantong plastikitu. Permainan ini menyusahkan mereka. Selain sudah beberapa hari harus menahan bau kantong plastik berisi kentang itu, ia juga menjadi beban berat karenaharus ditenteng ke mana-mana. Sudah barang tentu, semakin banyak kentang yang diletakkan di dalam plastik, baunya akan semakin tidak sedap dan semakin berat.Setelah seminggu, anak-anak sekolah taman kanak-kanak itu senang sekali. Karena permainan itu resmi berakhir.

Di sekolah, ibu guru menanyakan mereka bagaimana perasaan mereka ketika membawa sekantong kentang selama seminggu. Jawaban anak-anak tidak jauh berbeda, mereka mengatakan, “Sangat menyulitkan, susah sekali permainannya. Saya merasa capek karena membawa sekantong plastik berisi kentang ke mana-mana dan baunya juga sangat tidak sedap”. Kemudian guru pun menerangkan hikmah permainan tersebut, “Inilah gambaran kondisi hati yang sesungguhnya, ketika kita membenci seseorang. Rasa benci akan merusak, membuatpolusi dan mengeluarkan bau tidak sedap di hati kita. Kapan dan di mana punkita berada. Menahan rasa bau tidak sedap selama seminggu saja kalian sudah tidak sanggup, lalu apakah kalian mau menahan rasa penat yang sama, karena kalian benci kepada seseorang seumur hidup? “

HIKMAH CERITA:

Cinta sejati bukan berarti Anda harus mencintai seseorang secara sempurna dan lengkap. Karena Anda tidak akan pernah menemukannya. Cinta sejati adalah mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang benar dan sempurna.Dengan demikian, maka Anda akan mendapatkan cinta yang sama, sebagaimana bau busuk dan tidak sedap itu terus menyebar. Demikian juga sebaliknya, jika Andamencintai dan menerima seseorang apa adanya, maka bau indah dan aroma wangi akan terus menyebar di mana pun dan kapan pun.


Kisah Nyata : Akhir hayat penggemar musik dan pencinta Al-Qur'an

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang.Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yangmenyengat tulang.
Akusungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkahsabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.

Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku.Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.
Di sana,aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi. 
Tetapi,hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. 
Akubingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tia phari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.

Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma.Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.
Ucapkanlah“Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.
Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yangsekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.
Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi sepertiini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi…keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.   
Tak adagunanya…

Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.
Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan,hening. 
Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dansu’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.

Perjalananke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian.Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.
Tiba-tibaaku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berhargabagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.
Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.
Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu,aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya denga nlagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.

* KejadianYang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.
Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.
Ia turundari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan.

Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.
Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.
“Subhanallah!” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suciAl-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan iahampir mati.
Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.
Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.

Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku.Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.  
Sampai dirumah sakit…
Kepadaorang-orang di sanal kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh denga nkisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang darimereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan menciumkeningnya.

Semuaorang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.
Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa.Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barangkebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dankaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yangia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.

Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian,aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.
Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
“Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah”.
Pelan-pelan,kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu,sesungguhnya dia akan ditanya…
Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…
Dan aku…sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku dimasa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidupyang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…(Azzamul Qaadim, hal 36-42)

Sumber :["Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab"; judul asliKesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : AkafaPress Hal. 48]


Kisah Nyata : Akhir hayat penggemar musik dan pencinta Al-Qur'an

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang.Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yangmenyengat tulang.
Akusungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkahsabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.

Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku.Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.
Di sana,aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi. 
Tetapi,hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. 
Akubingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tia phari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.

Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma.Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.
Ucapkanlah“Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.
Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yangsekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.
Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi sepertiini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi…keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.   
Tak adagunanya…

Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.
Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan,hening. 
Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dansu’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.

Perjalananke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian.Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.
Tiba-tibaaku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berhargabagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.
Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.
Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu,aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya denga nlagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.

* KejadianYang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.
Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.
Ia turundari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan.

Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.
Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.
“Subhanallah!” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suciAl-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan iahampir mati.
Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.
Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.

Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku.Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.  
Sampai dirumah sakit…
Kepadaorang-orang di sanal kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh denga nkisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang darimereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan menciumkeningnya.

Semuaorang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.
Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa.Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barangkebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dankaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yangia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.

Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian,aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.
Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
“Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah”.
Pelan-pelan,kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu,sesungguhnya dia akan ditanya…
Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…
Dan aku…sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku dimasa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidupyang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…(Azzamul Qaadim, hal 36-42)

Sumber :["Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab"; judul asliKesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : AkafaPress Hal. 48]


Rumah tangga tidak hanya dibangun di atas cinta

Aku mengambilmu dari naungan kasih sayang orang tuamu, untuk menjadi tawanan dalam sebuah istana kecil milikku, menghalalkan dirimu bagiku... adalah untuk memuliakan dirimu, agar engkau bahagia, agar aku senantiasa melihat indahnya senyum yang terkembang di bibirmu di setiap pandangan mataku... agar aku bisa melindungimu dari dunia dan segala fitnahnya.

Dan sebagaimana engkau tahu, bahwa perjalanan kita berdua tidak akan selalu berada di atas hamparan sutera... kadang pertikaian itu ada,bagaikan mendung dalam istana kecil ini, dan air matamu bagaikan hujan membasahi bumi. Dan seandaikata engkau tahu, bahwa setiap tetes air mata itu bagaikan anak panah yang keras menerjang menembus hatiku... wahai istriku... sakitnya hatimu, adalah juga sakitnya hatiku, bahkan lebih sakit lagi... manakala aku yang seharusnya melindungimu, dan kini menumpahkan air matamu...

Namun bersabarlah atas setiap sikap tegasku, bersabarlah akan setiap diamnya lisanku, semua demi kebaikan diri dan kebahagiaan istana kecil yang tanpa kilauan permata ini... namun seharusnya engkau tahu bahwa berbinarnya matamu dan senyum yang terkembang di bibirmu... itu lebih indah dari kilauan permata manapun di dunia ini, dan aku senantiasa merindukan gemerlapnya permata itu... Maka bersabarlah, pertikaian rumah tangga adalah suatu kemestian, dan adalah tugasku sebagai suamimu untuk mendidik dan membimbingmu, agar engkau mengetahui kesalahanmu, agar senantiasa lurus langkahmu... mengikuti langkah-langkah kecilku, yang selalu mengulurkan tangan dan menunggu dirimu, tak akan kubiarkan engkau sendiri berjalan dan tertatih, sedang aku ada di depanmu, berdiri dengan kokoh untuk melindungimu.

Dan aku pun selalu berusaha bersabar kepadamu, jika engkau menangis menitiskan air matamu, maka aku pun menangis dalam hatiku menyesali kelalaianku dalam mendidikmu, maka hendaknya kita berdua berusaha memperbaiki diri kita, agar istana yang kecil dan sederhana ini lebih indah dan menyenangkan, bagi dirimu... bagi diriku... bagi putri dan pangeran kecil kita... Selayaknya kita selalu belajar dari kesalahan kita. Seharusnya kita berusaha dan selalu berusaha. Sedang 'ilmu ada di hadapan kita, mengajarkan setiap detail penyelesaian dalam permasalahan kita.

Catatan seorang suami kepada istrinya, bahwa rumah tangga tidak hanya dibangun di atas cinta, namun ketaqwaan kepada Robb mereka.



7 Keistimewaan Pepaya Bagi Kesehatan Tubuh Anda

Pepaya merupakan salah satu buah yang memiliki khasiat luar biasa bagi kesehatan tubuh semua orang. Buah ini mudah ditemukan di daerah pedesaan maupun di pasar tradisional dan modern. Harganya yang relatif murah, menjadikan buah tersebut dapat dinikmati oleh semua orang di berbagai kelas sosial yang berbeda. Buah ini sangat lezat untuk dimakan saat daging buahnya sudah masak atau matang. Dengan tekstur daging yang lembut dan rasanya yang manis, anak kecil pun sangat menyukai buah ini. Buah pepaya juga memiliki keistimewaan untuk kesehatan tubuh ada. lalu, apa saja keistimewaan buah pepaya bagi kesehatan tubuh anda...???

     Sahabat, tips kesehatan. Buah pepaya juga dikenal dengan nama kates (dalam bahasa jawa). Buah ini banyak di temukan pada daerah-daerah yang beriklim tropis. Sebagian besar buah ini berbentuk lonjong memanjang yang bisa mencapai ukuran 20 inci. Terkait dengan kandungan gizinya, buah pepaya termasuk salah satu buah bernutrisi lengkap. Vitamin A, C, K, E, folat, potassium, dan serat merupakan kandungan nutrisi dalam buah pepaya tersebut. Tips kesehatan akan mengulas berbagai keistimewaan buah pepaya terkait berbagai kandungan gizi dalam buah tersebut. Berikut ini 7 keistimewaan pepaya bagi kesehatan tubuh anda :
  1. Penangkal Penyakit Jantung. Memiliki jantung yang sehat menjadi impian semua orang. Dengan rutin mengkonsumsi buah pepaya akan membantu membuat organ jantung lebih sehat dan terhindar dari resiko penyakit pada jantung.
  2. Pencernaan Yang Lebih Sehat Dan Terjaga. Organ pencernaan memiliki peranan begitu penting dalam hal mengolah dan mendistribusikan berbagai nutrisi makanan ke seluruh tubuh. Kandungan serat, vitamin A, C, E serta beta-karoten di dalam pepaya berfungsi untuk menyehatkan organ pencernaan dan mampu meminimalisir penyakit kanker pada usus besar anda. 
  3. Penglihatan Yang Lebih Baik. Selama ini, mungkin wortel di anggap salah satu makanan terbaik untuk mendukung kesehatan mata. Namun, faktanya, pepaya juga sangat baik untuk organ mata anda. Ini dikarenakan, pepaya memiliki kandungan vitamin A yang cukup tinggi pula.
  4. Mencegah Kanker Prostat Pada Pria. Bagi para pria yang ingin terhindar dari jenis kanker prostat, mulailah untuk mengkonsumsi buah bulat lonjong tersebut. Karena buah pepaya mengandung likopen yang berfungsi menghindarkan dari penyakit kanker prostat pada pria.
  5. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh. Kandungan vitamin C yang cukup tinggi dalam pepaya dapat membantu menjaga dan meningkatkan sistem imun yang dimiliki oleh seseorang. Sehingga, tubuh tidak mudah sakit meskipun kondisi cuaca sering berubah secarat tak menentu.
  6. Melancarkan Buang Air Besar. Dengan menyediakan buah pepaya sebagai menu makanan anda sehari-hari, maka masalah sembelit atau susah buang air besar tidak akan di jumpai atau diderita oleh anda.
  7. Pelindung Dari Berbagai Radikal Bebas. Udara yang kita hirups setiap hari sudah tercampur dengan berbagai zat radikal bebas yang bisa menurunkan dan membahayakan kesehatan tubuh seseorang. Dengan mengkonsumsi buah pepaya mampu melindungi tubuh dari berbagai radikal bebas yang berbahaya tersebut.