.

Hasbunallaahu wa ni`mal Wakiil La Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah

Jumat, 29 November 2013

Materi dan Kebahagiaan

Suatu hari sebuah keluarga kecil terlihat sedang bermain-main di pinggir kolam di tengah taman kota. Nampak sang ayah sedang asyik bermain bola dengan putra laki-lakinya di tanah lapang yang sebenarnya tak cukup luas untuk tempat bermain bola. Sementara istrinya bersama anak perempuannya terlihat sedang asyik memainkan ayunan yang memang telahdisediakan oleh pihak pengelola taman. Senyuman tampak terus mengembang diwajah mereka. Sesekali suara tawa terdengar dari mulut mereka.

Satu jam kemudian, nampak orang tua dan kedua anaknya itu berlari-lari kecil menuju sebuah pohon besar yang ada di pinggir kolam. Sesampainya di bawah pohon itu, mereka langsung menggelar tikar yang sedari tadi dibawa.  Satu persatu isi dari kantong kresek hitam yang dibawa dikeluarkan. Dengan perlahans ang ibu menata isi kantong kresek tersebut di atas tikar.Lima menit kemudian telah terhidang sebakul nasi dan lauk pauknya. Tempe, tahu,ikan asin dan semangkuk sayur asem beserta sambal terasinya sudah siap untukdisantap.

Dengan wajah riang, keluarga kecil ini langsung bersiap menyantap hidangan yang telah terjejer di atas tikar. “Eiit...baca doa dulu ya!!”, ujar sang ayah kepada kedua anaknya. “Iya, yah…”, jawab si sulung.Dengan dipandu oleh sang ayah, ibu dan kedua anaknya mengikuti panduan membacadoa. “Allahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaabannaar”. “Amiin”, ujar ibu dan kedua anaknya sambil menempelkan kedua tangan mereka ke wajah mereka. Sesaat kemudian, mereka langsung menyantap makanan yang ada di depan mereka. Seringkali terdengar canda dan tawa dari mereka.Kebahagiaan sangat jelas terpancar dari raut wajah mereka. 

“Indah nian hidup mereka. Bersama-sama keluarga bisa bermain dan bersenda gurau. Tak ada raut kesedihan yang tampak dari mereka”, ujar Pak Andre yang sedari tadi terus memperhatikan tingkah polahkeluarga itu.

“Sementara aku ?!….hidupku tak menentu.Seakan-akan kebahagiaan terus menjauh dariku. Hidupku seakan sendirian, padahal diriku sudah mempunyai keluarga, seorang istri yang cantik dan empat orang anak hidup bersamaku. Dari sisi materi, hidupku pun berkecukupan. Segala keinginankupun sangat mudah terwujud. Namun, aku sering “iri” ketika melihat sebuah keluarga (anak dan orang tuanya) bisa berwisata bersama, asyik bercanda dan bermain bersama”, tuturnya dalam hati.

“Ingin sekali aku mengajak istri dan anak-anakku berwisata sekeluarga. Tetapi kesibukan istriku sebagai manajer di salah satu perusahaan ekspedisi ternama, terus menghalangi niatku. Ketika ajakan untuk ber-rekreasi dengan keluarga terlontar dari mulutku, istriku selalu menolaknya.Alasan sedang ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan atau pun ngelembur seringkali terucap dari mulut istriku.Seringkali aku kesal dibuatnya, namun aku selalu memendamnya dalam hati”, ujar pria yang bulan depan genap berusia 48 tahun ini.

Astaghfirullahal’adzim…salah apa aku ini?! Semua mudah aku dapatkan,usaha yang maju, rumah bagus, kendaraan mengkilap, tetapi mengapa kebahagiaan serasa terus menjauh dariku?!” ujar Pak Andre dalam hati.

Beberapa menit kemudian, Pak Andre tersadar dari lamunannya saat suara salam menyapanya. “Assalamu’alaikum”. Dengan agak terkejut, Pak Andre membalas salam, “Wa’alaikumsalam”. “Maaf, mengagetkan. Perkenalkan nama saya Subhan”, sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman. “Oya…Saya Andre“, jawab Pak Andre agak terbata-bata karena masih terkejut. “Sebelumnya saya minta maaf karena sudah mengagetkan bapak. Saya perhatikan bapak menangis. Kelihatan sedang bersedih, emangnya ada masalah apa pak?”, tanya Pak Subhan. “Saya juga minta maaf pak, karena sebenarnya dari tadi saya memperhatikan bapak dan keluarga bapak. Saya sedih pak, karena tidak bisa seperti Pak Subhan. Saya lihat Pak Subhan dan keluarga sangat bahagia. Bisa bermain bersama-samakeluarga, bercanda dan bersenda gurau, bahkan makan bersama di tempat ini. Dan saya lihat keluarga bapak sangat menikmatinya. Sedangkan saya tidak bisa. Susah sekali mengajak istri untuk refreshing seperti ini bersama anak-anak. Padahal kalau dari sisi materi, Alhamdulillah hidup saya dan keluarga serba berkecukupan,tetapi saya merasa belum bisa merasakan kebahagiaan”, kata Pak Andre berkaca-kaca.

Sambil memegang pundak Pak Andre, Pak Subhan menuturkan, “Oo…itu masalahnya. Sebenarnya saya juga dulu merasa seperti itu.Seakan-akan istri dan anak-anak jauh dari saya. Tidak sedekat seperti sekarang.Jarang sekali saya sempatkan waktu untuk keluarga. Saya hanya sibuk bekerja dan bekerja. Karena pada saat itu saya berfikir bahwa ketika karier saya bagus maka pendapatan saya akan bagus pula. Dan ketika saya memiliki banyak uang, maka kebahagiaan akan saya dapatkan”, ujar Pak Subhan.

Sambil menghela nafas, ia melanjutkan; “Tetapi,ternyata anggapan saya itu salah!!. Kebahagiaan tidak ditentukan dengan banyaknya materi. Berapapun banyaknya materi yang kita miliki, kalau kita jauhdari Dzat Yang Memberikan Kebahagiaan, maka tidak mungkin kebahagiaan akan menghampiri. Dan salah satu cara mendekatkan diri kita pada-Nya adalah dengan kita menjaga amanah yang telah diberikan-Nya pada kita. Istri dan anak-anak kita adalah amanah dari-Nya. Ya…keluarga kita adalah amanah dari-Nya. Amanah agar kita bisa membimbing mereka untuk dekat dengan-Nya. Amanah agar kita bisa menjadi imam yang baik buat mereka. Amanah agar kita bisa menjaga mereka darijilatan api neraka”.

“Bagaimana mungkin bisa membimbing mereka, kalau kita jauh dari mereka. Bagaimana mungkin bisa memandu mereka kalau kita hanya sibuk bekerja dan bekerja. Bagaimana mungkin bisa menjaga mereka dari jilatan api neraka, kalau kita hanya memberikan asupan-asupan materi duniawi tanpa ada nutrisi ukhrowi”, tutur Pak Subhan bersemangat.

“Tetapi materi juga kan penting Pak. Kita kan sekarang hidup di dunia?!”, sela Pak Andre. “Benar pak, tetapi kesalahan saya waktu dulu adalah saya memiliki anggapan bahwa materi adalah segalanya. Dengan materi, kita bisa mendapatkan segalanya, termasuk kebahagiaan. Tetapi, ternyata anggapan itu salah besar!!. Materi tak akan mampu menghadirkan kebahagiaan dalam hidup kita, jika sang empunya materi tak dekat dengan Sang Maha Pemberi Kebahagiaan, termasuk dengan mensia-siakan keluarga kita”, jelas Pak Subhan.

“Begitu ya pak…Makasih atas masukannya pak”,tutur Pak Andre sambil menjabat erat tangan Pak Subhan. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar