Suatu hari sebuah keluarga kecil terlihat sedang bermain-main di pinggir
kolam di tengah taman kota. Nampak sang ayah sedang asyik bermain bola dengan
putra laki-lakinya di tanah lapang yang sebenarnya tak cukup luas untuk tempat
bermain bola. Sementara istrinya bersama anak perempuannya terlihat sedang
asyik memainkan ayunan yang memang telahdisediakan oleh pihak pengelola taman.
Senyuman tampak terus mengembang diwajah mereka. Sesekali suara tawa terdengar
dari mulut mereka.
Satu jam kemudian, nampak orang tua dan kedua anaknya itu berlari-lari
kecil menuju sebuah pohon besar yang ada di pinggir kolam. Sesampainya di bawah
pohon itu, mereka langsung menggelar tikar yang sedari tadi dibawa. Satu
persatu isi dari kantong kresek hitam yang dibawa dikeluarkan. Dengan perlahans
ang ibu menata isi kantong kresek tersebut di atas tikar.Lima menit
kemudian telah terhidang sebakul nasi dan lauk pauknya. Tempe, tahu,ikan asin
dan semangkuk sayur asem beserta sambal terasinya sudah siap untukdisantap.
Dengan wajah riang, keluarga kecil ini langsung bersiap menyantap
hidangan yang telah terjejer di atas tikar. “Eiit...baca doa dulu ya!!”, ujar
sang ayah kepada kedua anaknya. “Iya, yah…”, jawab si sulung.Dengan dipandu
oleh sang ayah, ibu dan kedua anaknya mengikuti panduan membacadoa. “Allahumma
baariklanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaabannaar”. “Amiin”, ujar
ibu dan kedua anaknya sambil menempelkan kedua tangan mereka ke wajah mereka.
Sesaat kemudian, mereka langsung menyantap makanan yang ada di depan mereka.
Seringkali terdengar canda dan tawa dari mereka.Kebahagiaan sangat jelas
terpancar dari raut wajah mereka.
“Indah nian hidup mereka. Bersama-sama keluarga bisa bermain dan bersenda
gurau. Tak ada raut kesedihan yang tampak dari mereka”, ujar Pak Andre yang
sedari tadi terus memperhatikan tingkah polahkeluarga itu.
“Sementara aku ?!….hidupku tak menentu.Seakan-akan kebahagiaan terus
menjauh dariku. Hidupku seakan sendirian, padahal diriku sudah mempunyai
keluarga, seorang istri yang cantik dan empat orang anak hidup bersamaku. Dari
sisi materi, hidupku pun berkecukupan. Segala keinginankupun sangat mudah
terwujud. Namun, aku sering “iri” ketika melihat sebuah keluarga (anak dan
orang tuanya) bisa berwisata bersama, asyik bercanda dan bermain bersama”,
tuturnya dalam hati.
“Ingin sekali aku mengajak istri dan anak-anakku berwisata sekeluarga.
Tetapi kesibukan istriku sebagai manajer di salah satu perusahaan ekspedisi
ternama, terus menghalangi niatku. Ketika ajakan untuk ber-rekreasi dengan
keluarga terlontar dari mulutku, istriku selalu menolaknya.Alasan sedang ada
pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan atau pun ngelembur seringkali
terucap dari mulut istriku.Seringkali aku kesal dibuatnya, namun aku selalu
memendamnya dalam hati”, ujar pria yang bulan depan genap berusia 48 tahun ini.
“Astaghfirullahal’adzim…salah apa aku ini?! Semua mudah aku
dapatkan,usaha yang maju, rumah bagus, kendaraan mengkilap, tetapi mengapa
kebahagiaan serasa terus menjauh dariku?!” ujar Pak Andre dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Pak Andre tersadar dari lamunannya saat suara
salam menyapanya. “Assalamu’alaikum”. Dengan agak terkejut, Pak Andre
membalas salam, “Wa’alaikumsalam”. “Maaf, mengagetkan. Perkenalkan nama
saya Subhan”, sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman. “Oya…Saya Andre“,
jawab Pak Andre agak terbata-bata karena masih terkejut. “Sebelumnya saya minta
maaf karena sudah mengagetkan bapak. Saya perhatikan bapak menangis. Kelihatan
sedang bersedih, emangnya ada masalah apa pak?”, tanya Pak Subhan. “Saya
juga minta maaf pak, karena sebenarnya dari tadi saya memperhatikan bapak dan
keluarga bapak. Saya sedih pak, karena tidak bisa seperti Pak Subhan. Saya
lihat Pak Subhan dan keluarga sangat bahagia. Bisa bermain
bersama-samakeluarga, bercanda dan bersenda gurau, bahkan makan bersama di
tempat ini. Dan saya lihat keluarga bapak sangat menikmatinya. Sedangkan saya
tidak bisa. Susah sekali mengajak istri untuk refreshing seperti ini
bersama anak-anak. Padahal kalau dari sisi materi, Alhamdulillah hidup
saya dan keluarga serba berkecukupan,tetapi saya merasa belum bisa merasakan
kebahagiaan”, kata Pak Andre berkaca-kaca.
Sambil memegang pundak Pak Andre, Pak Subhan menuturkan, “Oo…itu
masalahnya. Sebenarnya saya juga dulu merasa seperti itu.Seakan-akan istri dan
anak-anak jauh dari saya. Tidak sedekat seperti sekarang.Jarang sekali saya
sempatkan waktu untuk keluarga. Saya hanya sibuk bekerja dan bekerja. Karena
pada saat itu saya berfikir bahwa ketika karier saya bagus maka pendapatan saya
akan bagus pula. Dan ketika saya memiliki banyak uang, maka kebahagiaan akan
saya dapatkan”, ujar Pak Subhan.
Sambil menghela nafas, ia melanjutkan; “Tetapi,ternyata anggapan saya itu
salah!!. Kebahagiaan tidak ditentukan dengan banyaknya materi. Berapapun
banyaknya materi yang kita miliki, kalau kita jauhdari Dzat Yang Memberikan
Kebahagiaan, maka tidak mungkin kebahagiaan akan menghampiri. Dan salah satu
cara mendekatkan diri kita pada-Nya adalah dengan kita menjaga amanah yang
telah diberikan-Nya pada kita. Istri dan anak-anak kita adalah amanah dari-Nya.
Ya…keluarga kita adalah amanah dari-Nya. Amanah agar kita bisa membimbing
mereka untuk dekat dengan-Nya. Amanah agar kita bisa menjadi imam yang baik
buat mereka. Amanah agar kita bisa menjaga mereka darijilatan api neraka”.
“Bagaimana mungkin bisa membimbing mereka, kalau kita jauh dari mereka.
Bagaimana mungkin bisa memandu mereka kalau kita hanya sibuk bekerja dan
bekerja. Bagaimana mungkin bisa menjaga mereka dari jilatan api neraka, kalau
kita hanya memberikan asupan-asupan materi duniawi tanpa ada nutrisi ukhrowi”,
tutur Pak Subhan bersemangat.
“Tetapi materi juga kan penting Pak. Kita kan sekarang hidup di dunia?!”,
sela Pak Andre. “Benar pak, tetapi kesalahan saya waktu dulu adalah saya memiliki
anggapan bahwa materi adalah segalanya. Dengan materi, kita bisa mendapatkan
segalanya, termasuk kebahagiaan. Tetapi, ternyata anggapan itu salah besar!!.
Materi tak akan mampu menghadirkan kebahagiaan dalam hidup kita, jika sang
empunya materi tak dekat dengan Sang Maha Pemberi Kebahagiaan, termasuk dengan
mensia-siakan keluarga kita”, jelas Pak Subhan.
“Begitu ya pak…Makasih atas masukannya pak”,tutur Pak Andre sambil
menjabat erat tangan Pak Subhan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar